Minggu, 22 Juni 2014

ASKEP Glaukoma




ASKEP GLAUKOMA

A.    Pengertian
Glaukoma berasal dari bahasa Yunani: Glaukos yang berarti hijau kebiruan yang memberikan kesan warna tersebut pada pupil penderita ditandai dengan adanya peningkatan tekanan bola mata, atropi papil saraf optik dan menciutnya lapang pandang.

Glaukoma adalah penyakit mata  yang menyebabkan proses hilangnya pengelihatan yang disebabkan oleh peningkatan tekanan cairan didalam mata, karena gangguan makanisme pengeluaran cairan mata dan kelainan syaraf mata. Jika tidak ditangani dengan segera dapat menyebabkan kerusakan retina dan resiko kebutaan total.

Glaukoma adalah suatu keadaan pada mata dimana terjadi peningkatan tekanan intraokuler yg bila cukup lama dan tekanannya cukup tinggi dapat menyebabkan kerusakan anatomis dan fungsional.

B.     Klasifikasi
1. Glaukoma primer
- Glaukoma sudut terbuka
Merupakan sebagian besar dari glaukoma ( 90-95% ) , yang meliputi kedua mata.
Timbulnya kejadian dan kelainan berkembang secara lambat. Disebut sudut terbuka
karena humor aqueousmempunyai pintu terbuka ke jaringan trabekular. Pengaliran
dihambat oleh perubahan degeneratif jaringan rabekular, saluran schleem, dan saluran yg
berdekatan. Perubahan saraf optik juga dapat terjadi. Gejala awal biasanya tidak ada,
kelainan diagnose dengan peningkatan TIO dan sudut ruang anterior normal. Peningkatan
tekanan dapat dihubungkan dengan nyeri mata yang timbul.
- Glaukoma sudut tertutup(sudut sempit)
Disebut sudut tertutup karena ruang anterior secara anatomis menyempit sehingga iris
terdorong ke depan, menempel ke jaringan trabekular dan menghambat humor aqueous
mengalir ke saluran schlemm. Pergerakan iris ke depan dapat karena peningkatan tekanan
vitreus, penambahan cairan di ruang posterior atau lensa yang mengeras karena usia tua.
Gejala yang timbul dari penutupan yang tiba- tiba dan meningkatnya TIO, dapat berupa
nyeri mata yang berat, penglihatan yang kabur dan terlihat hal. Penempelan iris
menyebabkan dilatasi pupil, bila tidak segera ditangani akan terjadi kebutaan dan nyeri
yang hebat.
2. Glaukoma sekunder
Dapat terjadi dari peradangan mata , perubahan pembuluh darah dan trauma . Dapat mirip
dengan sudut terbuka atau tertutup tergantung pada penyebab.
- Perubahan lensa
- Kelainan uvea
- Trauma
- bedah
3. Glaukoma congenital
- Primer atau infantile
- Menyertai kelainan kongenital lainnya
4. Glaukoma absolute
Merupakan stadium akhir glaukoma ( sempit/ terbuka) dimana sudah terjadi kebutaan
total akibat tekanan bola mata memberikan gangguan fungsi lanjut .Pada glaucoma
absolut kornea terlihat keruh, bilik mata dangkal, papil atrofi dengan eksvasi
glaukomatosa, mata keras seperti batu dan dengan rasa sakit.sering mata dengan buta ini
mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah sehingga menimbulkan penyulit berupa
neovaskulisasi pada iris, keadaan ini memberikan rasa sakit sekali akibat timbulnya
glaukoma hemoragik.
Pengobatan glaukoma absolut dapat dengan memberikan sinar beta pada badan siliar,
alkohol retrobulber atau melakukan pengangkatan bola mata karena mata telah tidak
berfungsi dan memberikan rasa sakit.

C.     Etiologi
Untuk glukoma tidak ada penyebab yang spesifik, namun ada beberapa factor resiko yang dapat mengarah pada glukoma, antara lain :
-Tekanan darah tinggi
-Usia > 45 tahun
-Keluarga mempunyai riwayat glukoma
-Pemakaian kortikosteroid dalam waktu yang lama.
-Myopia tinggi dan progresif.
Penyakit yang ditandai dengan peninggian tekanan intraokuler ini juga disebabkan oleh :
- Bertambahnya produksi cairan mata oleh badan ciliary
- Berkurangnya pengeluaran cairan mata di daerah sudut bilik mata atau di celah pupil

D.    Manifestasi klinik
Umumnya dari riwayat keluarga ditemukan anggota keluarga dalam garis vertical atau horizontal
memiliki penyakit serupa, penyakit ini berkembang secara perlahan namun pasti, penampilan
bola mata seperti normal dan sebagian besar tidak menampakan kelainan selama stadium dini.
Pada stadium lanjut keluhan klien yang mincul adalah sering menabrak akibat pandangan yang
menjadi jelek atau lebih kabur, lapangan pandang menjdi lebih sempit hingga kebutaan secara
permanen. Gejala yang lain adalah :
Mata merah dan sakit tanpa kotoran.
Kornea suram.
Disertai sakit kepala hebat terkadang sampai muntah.
Kemunduran penglihatan yang berkurang cepat.
Nyeri di mata dan sekitarnya.
Edema kornea.
Pupil lebar dan refleks berkurang sampai hilang.
Lensa keruh.

E.      Pemeriksaan Diagnostik
1.Oftalmoskopi : Untuk melihat fundus bagian mata dalam yaitu retina, discus optikus macula
dan pembuluh darah retina.
2.Tonometri : Adalah alat untuk mengukur tekanan intra okuler, nilai mencurigakan apabila
berkisar antara 21-25 mmhg dan dianggap patologi bila melebihi 25 mmhg.
3.Pemeriksaan lampu-slit.
Lampu-slit digunakan unutk mengevaluasi oftalmik yaitu memperbesar kornea, sclera dan kornea
inferior sehingga memberikan pandangan oblik kedalam tuberkulum dengan lensa khusus.
4.Pemeriksaan Ultrasonografi..
Ultrasonografi dalai gelombang suara yang dapat digunakan unutk mengukur dimensi dan
struktur okuler. Ada dua tipe ultrasonografi yaitu :
A-Scan-Ultrasan.
Berguna untuk membedakan tumor maligna dan benigna, mengukur mata untuk pemasangan
implant lensa okuler dan memantau adanya glaucoma congenital.
B-Scan-Ultrasan.
Berguna unutk mendeteksi dan mencari bagian struktur dalam mata yang kurang jelas akibat
adanya katarak dan abnormalitas lain.

F.      Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan adalah menurunkan TIO ke tingkat yang konsisten dengan
mempertahankan penglihatan, penatalaksanaan berbeda-beda tergantung klasifikasi penyakit
dan respons terhadap terapi.
a.Terapi obat.
Aseta Zolamit (diamox, glaupakx) 500 mg oral.
Pilokarpin Hcl 2-6 % 1 tts / jam.
b.Bedah lazer.
Penembakan lazer untuk memperbaiki aliran humor aqueus dan menurunkan tio.
c.Bedah konfensional.
Iredektomi perifer atau lateral dilakukan untuk mengangkat sebagian iris unutk memungkinkan
aliran humor aqueus Dari kornea posterior ke anterior.
Trabekulektomi (prosedur filtrasi) dilakukan untuk menciptakan saluran balu melalui sclera.

G.     Asuhan Keperawatan
-Pengkajian:
1.      Aktivitas/Istirahat
Perubahan aktivitas biasanya/hobi sehubungan dengan gangguan penglihatan
2.       Makanan/Cairan
Mual, muntah (glaukoma akut)
3.       Neurosensori
Gangguan penglihatan (kabur/tidak jelas), sinar terang menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan perifer, kesulitan memfokuskan kerja dengan
dekat merasa di ruang gelap (katarak).
Penglihatan berawan/kabur, tampak lingkaran cahaya/pelangi sekitar sinar
4.      Nyeri/Kenyamanan:
Ketidaknyamanan ringan/mata berair (glaukoma kronis)
Nyeri tiba-tiba/berat menetap atau tekanan pada dan sekitar mata, sakit kepala (glaukoma akut).
           
            -Diagnosa keperawatan:
1.    Nyeri b/d peningkatan tekanan intra okuler (TIO) yang ditandai dengan mual dan muntah
Tujuan: nyeri hilang atau berkurang
Kriteria Hasil:
a.    Pasien mendemonstrasikan pengetahuan akan penilaian nyeri
b.    Pasien mengatakan nyeri berkurang/hilang
c.    Ekspresi wajah rileks
Intervensi:
a.    Kaji tipe intensitas dan lokasi nyeri
b.    Kaji tingkatan nyeri untuk menentukan dosis analgesic
c.    Anjurkan istirahat ditempat tidur dalam ruangan yang tenang
d.    Atur sikap fowler 30° atau dalam posisi nyaman.
e.    Hindari mual, muntah karena ini akan meningkatkan TIO
f.     Alihkan perhatian pada hal-hal yang menyenangkan
g.    Berikan analgesi sesuai anjuran

2.    Gangguan persepsi sensori penglihatan b/d gangguan penerimaan, gangguan status organ
ditandai dengan kehilangan lapang pandang progresif.
Tujuan: Penggunaan penglihatan yang optimal
Kriteria Hasil:
a.    Pasien akan berpartisipasi dalam program pengobatan
b.    Pasien akan mempertahankan lapang ketajaman penglihatan tanpa kehilangan lebih lanjut
Intervensi:
a.    Pastikan derajat/tipe kehilangan penglihatan
b.    Dorong mengekspresikan perasaan tentang kehilangan / kemungkinan kehilangan penglihatan
c.    Tunjukkan pemberian tetes mata, contoh menghitung tetesan, menikuti jadwal, tidak salah dosis
d.    Lakukan tindakan untuk membantu pasien menanganiketerbatasan penglihatan, contoh
kurangi kekacauan,atur perabot, ingatkan memutar kepala ke subjek yang terlihat; perbaiki sinar
suram dan masalah penglihatan malam
e.    Kolaborasi obat sesuai dengan indikasi

3.    Ansietas b/d faktor fisilogis, perubahan status kesehatan, adanya nyeri,
kemungkinan/kenyataan kehilangan penglihatan ditandai dengan ketakutan, ragu-ragu,
menyatakan masalah tentang perubahan kejadian hidup
Tujuan: Cemas hilang atau berkurang
Kriteria Hasil:
a.    Pasien tampak rileks dan melaporkan ansitas menurun sampai tingkat dapat diatasi
b.    Pasien menunjukkan ketrampilan pemecahan masalah
c.    Pasien menggunakan sumber secara efektif
Intervensi:
a.    Kaji tingkat ansietas, derajat pengalaman nyeri/timbul nya gejala tiba-tiba dan pengetahuan kondisi saat ini
b.    Berikan informasi yang akurat dan jujur. Diskusikan kemungkinan bahwa pengawasan dan pengobatan mencegah kehilangan penglihatan tambahan
c.    Dorong pasien untuk mengakui masalah dan mengekspresikan perasaan
d.    Identifikasi sumber/orang yang menolong

4.Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis, dan pengobatan b/d
kurang terpajan/tak mengenal sumber, kurang mengingat, salah interpretasi ditandai dengan
pertanyaan, pernyataan salah persepsi, tak akurat mengikuti instruksi, terjadi komplikasi yang
dapat dicegah
Tujuan: Klien mengetahui tentang kondisi,prognosis dan pengobatannya
Kriteria Hasil:
a.    pasien menyatakan pemahaman kondisi, prognosis, dan pengobatan
b.    Mengidentifikasi hubungan antar gejala/tanda dengan proses penyakit
c.    Melakukan prosedur dengan benar dan menjelaskan alasan tindakan
Intervensi
a.    Diskusikan perlunya menggunakan identifikasi
b.    Tunjukkan tehnik yang benar pemberian tetes mata
c.    Izinkan pasien mengulang tindakan
d.    Diskusikan obat yang harus dihindari, contoh midriatik, kelebihan pemakaian steroid topical

Evaluasi
1.    Nyeri hilang atau berkurang
2.    Penggunaan penglihatan yang optimal
3.    Cemas hilang atau berkurang
4.    Klien mengetahui tentang kondisi,prognosis dan pengobatannya


DAFTAR PUSTAKA

1. Junadi P. dkk, Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapius, FK-UI, 1982
2. Sidarta Ilyas, Ilmu Penyakit Mata, FKUI, 2000.
3. Long C Barbara. Medical surgical Nursing. 1992
4. Doungoes, marilyn E, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan Dan
pendokumentasian perawatan pasien. Ed 3, EGC, Jakarta, 2000
5. Susan Martin Tucker, Standar Perawatan Pasien : Proses Keperawatan, Diagnosisi dan Evaluasi. Ed 5
Vol3 EGC. Jakarta 1998
6. Brunner & Suddart. Keperawatan Medical Bedah EGC. Jakarta 2002