ASKEP GLAUKOMA
A. Pengertian
Glaukoma berasal dari bahasa Yunani:
Glaukos yang berarti hijau kebiruan yang memberikan kesan warna tersebut pada
pupil penderita ditandai dengan adanya peningkatan tekanan bola mata, atropi
papil saraf optik dan menciutnya lapang pandang.
Glaukoma
adalah
penyakit mata yang menyebabkan proses
hilangnya pengelihatan yang disebabkan oleh peningkatan tekanan cairan didalam
mata, karena gangguan makanisme pengeluaran cairan mata dan kelainan syaraf
mata. Jika tidak ditangani dengan segera dapat menyebabkan kerusakan retina dan
resiko kebutaan total.
Glaukoma
adalah suatu keadaan pada mata dimana terjadi peningkatan tekanan intraokuler
yg bila cukup lama dan tekanannya cukup tinggi dapat menyebabkan kerusakan
anatomis dan fungsional.
B. Klasifikasi
1. Glaukoma primer
- Glaukoma sudut terbuka
Merupakan sebagian besar
dari glaukoma ( 90-95% ) , yang meliputi kedua mata.
Timbulnya kejadian dan
kelainan berkembang secara lambat. Disebut sudut terbuka
karena humor
aqueousmempunyai pintu terbuka ke jaringan trabekular. Pengaliran
dihambat oleh perubahan
degeneratif jaringan rabekular, saluran schleem, dan saluran yg
berdekatan. Perubahan
saraf optik juga dapat terjadi. Gejala awal biasanya tidak ada,
kelainan diagnose dengan
peningkatan TIO dan sudut ruang anterior normal. Peningkatan
tekanan dapat
dihubungkan dengan nyeri mata yang timbul.
- Glaukoma sudut
tertutup(sudut sempit)
Disebut sudut tertutup
karena ruang anterior secara anatomis menyempit sehingga iris
terdorong ke depan,
menempel ke jaringan trabekular dan menghambat humor aqueous
mengalir ke saluran
schlemm. Pergerakan iris ke depan dapat karena peningkatan tekanan
vitreus, penambahan
cairan di ruang posterior atau lensa yang mengeras karena usia tua.
Gejala yang timbul dari
penutupan yang tiba- tiba dan meningkatnya TIO, dapat berupa
nyeri mata yang berat,
penglihatan yang kabur dan terlihat hal. Penempelan iris
menyebabkan dilatasi
pupil, bila tidak segera ditangani akan terjadi kebutaan dan nyeri
yang hebat.
2. Glaukoma sekunder
Dapat terjadi dari
peradangan mata , perubahan pembuluh darah dan trauma . Dapat mirip
dengan sudut terbuka
atau tertutup tergantung pada penyebab.
- Perubahan lensa
- Kelainan uvea
- Trauma
- bedah
3. Glaukoma congenital
- Primer atau infantile
- Menyertai kelainan
kongenital lainnya
4. Glaukoma absolute
Merupakan stadium akhir
glaukoma ( sempit/ terbuka) dimana sudah terjadi kebutaan
total akibat tekanan
bola mata memberikan gangguan fungsi lanjut .Pada glaucoma
absolut kornea terlihat
keruh, bilik mata dangkal, papil atrofi dengan eksvasi
glaukomatosa, mata keras
seperti batu dan dengan rasa sakit.sering mata dengan buta ini
mengakibatkan
penyumbatan pembuluh darah sehingga menimbulkan penyulit berupa
neovaskulisasi pada
iris, keadaan ini memberikan rasa sakit sekali akibat timbulnya
glaukoma hemoragik.
Pengobatan glaukoma
absolut dapat dengan memberikan sinar beta pada badan siliar,
alkohol retrobulber atau
melakukan pengangkatan bola mata karena mata telah tidak
berfungsi dan memberikan
rasa sakit.
C. Etiologi
Untuk
glukoma tidak ada penyebab yang spesifik, namun ada beberapa factor resiko yang
dapat mengarah pada glukoma, antara lain :
-Tekanan
darah tinggi
-Usia
> 45 tahun
-Keluarga
mempunyai riwayat glukoma
-Pemakaian kortikosteroid
dalam waktu yang lama.
-Myopia tinggi dan
progresif.
Penyakit yang ditandai
dengan peninggian tekanan intraokuler ini juga disebabkan oleh :
- Bertambahnya produksi cairan
mata oleh badan ciliary
- Berkurangnya
pengeluaran cairan mata di daerah sudut bilik mata atau di celah pupil
D. Manifestasi klinik
Umumnya dari riwayat
keluarga ditemukan anggota keluarga dalam garis vertical atau horizontal
memiliki penyakit
serupa, penyakit ini berkembang secara perlahan namun pasti, penampilan
bola mata seperti
normal dan sebagian besar tidak menampakan kelainan selama stadium dini.
Pada stadium lanjut
keluhan klien yang mincul adalah sering menabrak akibat pandangan yang
menjadi jelek atau
lebih kabur, lapangan pandang menjdi lebih sempit hingga kebutaan secara
permanen. Gejala yang
lain adalah :
Mata merah dan sakit
tanpa kotoran.
Kornea suram.
Disertai sakit kepala
hebat terkadang sampai muntah.
Kemunduran penglihatan
yang berkurang cepat.
Nyeri di mata dan
sekitarnya.
Edema kornea.
Pupil lebar dan refleks
berkurang sampai hilang.
Lensa keruh.
E.
Pemeriksaan
Diagnostik
1.Oftalmoskopi : Untuk
melihat fundus bagian mata dalam yaitu retina, discus optikus macula
dan pembuluh darah
retina.
2.Tonometri : Adalah
alat untuk mengukur tekanan intra okuler, nilai mencurigakan apabila
berkisar antara 21-25
mmhg dan dianggap patologi bila melebihi 25 mmhg.
3.Pemeriksaan
lampu-slit.
Lampu-slit digunakan
unutk mengevaluasi oftalmik yaitu memperbesar kornea, sclera dan kornea
inferior sehingga
memberikan pandangan oblik kedalam tuberkulum dengan lensa khusus.
4.Pemeriksaan
Ultrasonografi..
Ultrasonografi dalai
gelombang suara yang dapat digunakan unutk mengukur dimensi dan
struktur okuler. Ada dua
tipe ultrasonografi yaitu :
A-Scan-Ultrasan.
Berguna untuk
membedakan tumor maligna dan benigna, mengukur mata untuk pemasangan
implant lensa okuler
dan memantau adanya glaucoma congenital.
B-Scan-Ultrasan.
Berguna unutk
mendeteksi dan mencari bagian struktur dalam mata yang kurang jelas akibat
adanya katarak dan abnormalitas
lain.
F.
Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan
adalah menurunkan TIO ke tingkat yang konsisten dengan
mempertahankan
penglihatan, penatalaksanaan berbeda-beda tergantung klasifikasi penyakit
dan respons terhadap
terapi.
a.Terapi obat.
Aseta Zolamit (diamox,
glaupakx) 500 mg oral.
Pilokarpin Hcl 2-6 % 1
tts / jam.
b.Bedah lazer.
Penembakan lazer untuk
memperbaiki aliran humor aqueus dan menurunkan tio.
c.Bedah konfensional.
Iredektomi perifer
atau lateral dilakukan untuk mengangkat sebagian iris unutk memungkinkan
aliran humor aqueus
Dari kornea posterior ke anterior.
Trabekulektomi
(prosedur filtrasi) dilakukan untuk menciptakan saluran balu melalui sclera.
G.
Asuhan
Keperawatan
-Pengkajian:
1.
Aktivitas/Istirahat
Perubahan aktivitas biasanya/hobi sehubungan
dengan gangguan penglihatan
2.
Makanan/Cairan
Mual, muntah (glaukoma akut)
3.
Neurosensori
Gangguan penglihatan (kabur/tidak jelas), sinar
terang menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan perifer,
kesulitan memfokuskan kerja dengan
dekat merasa di ruang gelap (katarak).
Penglihatan berawan/kabur, tampak lingkaran
cahaya/pelangi sekitar sinar
4.
Nyeri/Kenyamanan:
Ketidaknyamanan ringan/mata berair (glaukoma
kronis)
Nyeri tiba-tiba/berat menetap atau tekanan pada
dan sekitar mata, sakit kepala (glaukoma akut).
-Diagnosa
keperawatan:
1.
Nyeri
b/d peningkatan tekanan intra okuler (TIO) yang ditandai dengan mual dan muntah
Tujuan: nyeri hilang atau berkurang
Kriteria Hasil:
a.
Pasien
mendemonstrasikan pengetahuan akan penilaian nyeri
b.
Pasien
mengatakan nyeri berkurang/hilang
c.
Ekspresi
wajah rileks
Intervensi:
a.
Kaji tipe
intensitas dan lokasi nyeri
b.
Kaji
tingkatan nyeri untuk menentukan dosis analgesic
c.
Anjurkan
istirahat ditempat tidur dalam ruangan yang tenang
d.
Atur
sikap fowler 30° atau dalam posisi nyaman.
e.
Hindari
mual, muntah karena ini akan meningkatkan TIO
f.
Alihkan
perhatian pada hal-hal yang menyenangkan
g.
Berikan
analgesi sesuai anjuran
2. Gangguan persepsi
sensori penglihatan b/d gangguan penerimaan, gangguan status organ
ditandai dengan kehilangan lapang pandang progresif.
Tujuan: Penggunaan penglihatan
yang optimal
Kriteria Hasil:
a. Pasien akan
berpartisipasi dalam program pengobatan
b. Pasien akan
mempertahankan lapang ketajaman penglihatan tanpa kehilangan lebih lanjut
Intervensi:
a. Pastikan derajat/tipe
kehilangan penglihatan
b. Dorong mengekspresikan
perasaan tentang kehilangan / kemungkinan kehilangan penglihatan
c. Tunjukkan pemberian
tetes mata, contoh menghitung tetesan, menikuti jadwal, tidak salah dosis
d. Lakukan tindakan untuk
membantu pasien menanganiketerbatasan penglihatan, contoh
kurangi kekacauan,atur perabot, ingatkan memutar kepala ke subjek
yang terlihat; perbaiki sinar
suram dan masalah penglihatan malam
e. Kolaborasi obat sesuai
dengan indikasi
3. Ansietas b/d faktor
fisilogis, perubahan status kesehatan, adanya nyeri,
kemungkinan/kenyataan kehilangan penglihatan ditandai dengan
ketakutan, ragu-ragu,
menyatakan masalah tentang perubahan kejadian hidup
Tujuan: Cemas hilang atau
berkurang
Kriteria Hasil:
a. Pasien tampak rileks dan
melaporkan ansitas menurun sampai tingkat dapat diatasi
b. Pasien menunjukkan
ketrampilan pemecahan masalah
c. Pasien menggunakan
sumber secara efektif
Intervensi:
a. Kaji tingkat ansietas,
derajat pengalaman nyeri/timbul nya gejala tiba-tiba dan pengetahuan kondisi
saat ini
b. Berikan informasi yang akurat
dan jujur. Diskusikan kemungkinan bahwa pengawasan dan pengobatan mencegah
kehilangan penglihatan tambahan
c. Dorong pasien untuk
mengakui masalah dan mengekspresikan perasaan
d. Identifikasi
sumber/orang yang menolong
4.Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi,
prognosis, dan pengobatan b/d
kurang terpajan/tak mengenal sumber, kurang mengingat, salah
interpretasi ditandai dengan
pertanyaan, pernyataan salah persepsi, tak akurat mengikuti instruksi,
terjadi komplikasi yang
dapat dicegah
Tujuan: Klien mengetahui
tentang kondisi,prognosis dan pengobatannya
Kriteria Hasil:
a. pasien menyatakan pemahaman kondisi, prognosis,
dan pengobatan
b. Mengidentifikasi hubungan antar gejala/tanda
dengan proses penyakit
c. Melakukan prosedur dengan benar dan menjelaskan
alasan tindakan
Intervensi
a. Diskusikan perlunya menggunakan identifikasi
b. Tunjukkan tehnik yang benar pemberian tetes mata
c. Izinkan pasien mengulang tindakan
d. Diskusikan obat yang harus dihindari, contoh
midriatik, kelebihan pemakaian steroid topical
Evaluasi
1. Nyeri hilang atau berkurang
2. Penggunaan penglihatan yang optimal
3. Cemas hilang atau berkurang
4. Klien mengetahui tentang kondisi,prognosis dan
pengobatannya
DAFTAR PUSTAKA
1. Junadi P. dkk,
Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapius, FK-UI, 1982
2. Sidarta Ilyas, Ilmu
Penyakit Mata, FKUI, 2000.
3. Long C Barbara.
Medical surgical Nursing. 1992
4. Doungoes, marilyn E,
Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan Dan
pendokumentasian
perawatan pasien. Ed 3, EGC, Jakarta, 2000
5. Susan Martin Tucker,
Standar Perawatan Pasien : Proses Keperawatan, Diagnosisi dan Evaluasi. Ed 5
Vol3 EGC. Jakarta 1998
6. Brunner &
Suddart. Keperawatan Medical Bedah EGC. Jakarta 2002