ASKEP ANEMIA
A.
PENGERTIAN
Anemia
adalah suatu keadaan dimana kadar Hb dan atau hitung eritrosit lebih rendah
dari normal. Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit serta jumlah Hb dalam
1mm3 darah atau berkurangnya volume sel yang didapatkan (packed red
cells volume) dalam 100 ml darah. (Ngastiyah.1997).
Batasan yang umum dipengaruhi adalah
kriteria WHO pada tahun 1968.Dinyatakan sebagai anemia bila tedapat nilai
dengan criteria sebagai berikut:
|
No
|
Jenis
kelamin/ usia
|
Kadar
hemoglobin
|
|
1
|
laki-laki
|
Hb
<13gr/dl
|
|
2
|
perempuan
dewasa tidak hamil
|
Hb
<12gr/dl
|
|
3
|
Perempuan
|
Hb <11gr/dl
|
|
4
|
Anak
usia 6-14 tahun
|
Hb <12gr/dl
|
|
5
|
Anak usia 6
bulan-6 tahun
|
Hb <11gr/dl
|
Anemia
adalah berkurangnya hingga di bawah nilai normal sel darah merah, kualitas
hemoglobin dan volume packed red bloods cells (hematokrit) per 100 ml darah
(Price, 2006 : 256).
.
Anemia adalah gejala dari kondisi
yang mendasari, seperti kehilangan komponen darah, elemen tak adekuat atau
kurangnya nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah, yang
mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkut oksigen darah (Doenges, 1999).
Anemia
adalah istilah yang menunjukan rendahnya hitungan sel darah merah dan kadar
hemoglobin dan hematokrit di bawah normal (Smeltzer,
2002 : 935).
B. ETIOLOGI
Anemia dapat
terjadi karena beberapa alasan :
1.
Produksi sel darah merah menurun
2.
Penghancuran sel darah merah yang terlalu
banyak
3.
Ketidak cukupan jumlah hemoglobin yang terdapat dalam
sel darah merah.
Anemia dapat terjadi karena kekurangan bahan baku pembuat
sel darah, perdarahan yang masif seperti kecelakaan, operasi dan persalinan,
karena intoksikasi, infeksi (malaria), terhentinya pembentukan sel darah oleh
sumsum tulang (kerusakan sumsum tulang).
( Burton, 1990).
C.
PATOFISIOLOGI
Timbulnya
amnemia mencerminkan adanya keggagalan sumsum atau kehilangan sel darah merah berlebihan
atau keduanya. Kegagalan sumsum (misal.berkuranganya eritropoesis) dapat
terjadi akibat kekurangan nutrisi, pejanantoksik, invasi tumor, atau kebnyakan
penyebab yang tidak diketahui. Sel darah merah dapat hilang melalui peradarahan
atau hemolisis( destruksi).
Pada kasus yang disebut terakhir, masalahnya
dapat akibat defek sel darah merah yang tidak sesuai dengan ketahahan sel darah
merah normal atau akibat beberapa faktor diluar sel darah merah yang
menyebabkan destruksi sel darah merah.
Lisis
sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sel fagositik atau dalam
sistem retikuloendotelia, terutama dalam hati dan limpa. Sebagai hasil samping
proses ini bilirubin yang terbentuk dalam fagosit, akan memasuki aliran darah.
Setiap kenaikan destruksi sel darah merah segera direfleksikan dengan
peningkatan bilirubin plasma ( konsentrasi normalanya 1 mg/ dl atau kurang ;
kadar diatas 1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sklera)
Apabila
sel darah merah mengalami pengancuran dalam sirkulasi, seperti yang terjadi
pada berbagai kelainan hemolitik, maka akan muncul dalam plasma(
hemoglobinemia).
Apabila
konsentrasi plasma melebihi kapasitas haptoglobin plasma(protein pengikat untuk
hemoglobin bebas) untuk mengikat semuanya (mis. Apabila jumlahnya lebih
dari sekitar 100 mg/dl ) hemoglobin kan terdifusi dalam glomerulus ginjal dan
kedalam urin (hemoglobinuria).
Jika
ada atau tidak adanya hemoglobinemia atau hemoglobinuria dapat memberikan
informasi mengenai lokasi penghancuran sel darah merah abnormal pada pasien
dengan hemolisi dan dapat merupakan petunjuk untuk mengetahui sifat proses
hemolitik tersebut. (Suddart and Brunner,
2001)
D. WOC TERLAMPIR
E. MANIFESTASI KLINIS
1. Tanda-tanda umum anemia:
a. pucat,
b. takicardi
(nadi cepat)
c. bising
sistolik anorganik,
d. bising
karotis
e. pembesaran jantung.
f. Mati rasa atau kesemutan di daerah
kaki.
g. Mual dan diare
2. Manifestasi khusus anemia :
a.
Anemia aplastik: ptekie, ekimosis,
epistaksis, ulserasi oral, infeksi bakteri, demam, anemis, pucat, lelah,
takikardi.
b.
Anemia defisiensi: konjungtiva
pucat (Hb 6-10 gr/dl), telapak tangan pucat (Hb < 8 gr/dl), iritabilitas,
anoreksia, takikardi, murmur sistolik, letargi, tidur meningkat, kehilangan
minat bermain atau aktivitas bermain. Anak tampak lemas, sering berdebar-debar,
lekas lelah, pucat, sakit kepala, anak tak tampak sakit, tampak pucat pada
mukosa bibir, farink,telapak tangan dan dasar kuku. Jantung agak membesar dan
terdengar bising sistolik yang fungsional.
c.
Anemia aplastik : ikterus,
hepatosplenomegali.
(Staf
Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UI, 1985)
F.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1 Kadar Hb.
Kadar Hb <10g/dl. Konsentrasi
hemoglobin eritrosit rata-rata < 32% (normal: 32-37%), leukosit dan
trombosit normal, serum iron merendah, iron binding capacity meningkat.
2
Indeks eritrosit
3
jumlah leukosit dan trombosit
4 hitung retikulosit
5
sediaan apus darah
6
pameriksaan sumsum tulang
7
Kelainan laborat sederhana untuk masing-masing
tipe anemia :
8
Anemia defisiensi asam folat : makro/megalositosis
a. Anemia hemolitik : retikulosit
meninggi, bilirubin indirek dan total naik, urobilinuria.
b. Anemia aplastik : trombositopeni,
granulositopeni, pansitopenia, sel patologik darah tepi ditemukan pada anemia
aplastik karena keganasan. (Petit,
1997)
G. KOMPLIKASI
a. Kelumpuhan
b. gangguan psikologis
c. Hallucination and delusion (halusinasi)
d. Infeksi genoturiao (infeksi
pada saluran kemih)
e. gagal jantung
f. Kejang
g. Gastritis
(Sjaifoellah,
1998)
H. PENCEGAHAN ANEMIA
Banyak jenis anemia tidak dapat
dicegah. Namun, Anda dapat membantu menghindari anemia kekurangan zat besi dan
anemia kekurangan vitamin dengan makan yang sehat, variasi makanan, termasuk:
1.
Besi. Sumber
terbaik zat besi adalah daging sapi dan daging lainnya. Makanan lain yang kaya
zat besi, termasuk kacang-kacangan, lentil, sereal kaya zat besi, sayuran
berdaun hijau tua, buah kering, selai kacang dan kacang-kacangan.
2.
Folat. Gizi ini, dan bentuk sintetik, asam folat, dapat
ditemukan di jus jeruk dan buah- buahan, pisang,
sayuran berdaun hijau tua, kacang polong dan dibentengi roti, sereal dan pasta.
3.
Vitamin B-12. Vitamin ini
banyak dalam daging dan produk susu.
4.
Vitamin C. Makanan yang mengandung vitamin C, seperti jeruk, melon
dan beri, membantu meningkatkan penyerapan zat besi.
I.
PENGOBATAN ANEMIA
1.
Pengobatan anemia tergantung pada penyebabnya:
a.
Anemia kekurangan zat besi. Bentuk anemia ini diobati
dengan suplemen zat besi, yang mungkin Anda harus minum selama beberapa bulan
atau lebih. Jika penyebab kekurangan zat besi kehilangan darah - selain dari
haid
b.
sumber perdarahan harus diketahui dan dihentikan. Hal ini
mungkin melibatkan operasi.
c.
Anemia
kekurangan vitamin. Anemia pernisiosa diobati dengan suntikan - yang seringkali
suntikan seumur hidup - vitamin B-12. Anemia karena kekurangan asam folat
diobati dengan suplemen asam folat.
d.
Anemia penyakit
kronis. Tidak ada pengobatan khusus untuk anemia jenis ini. Suplemen zat besi
dan vitamin umumnya tidak membantu jenis anemia ini . Namun, jika gejala
menjadi parah, transfusi darah atau suntikan eritropoietin sintetis, hormon
yang biasanya dihasilkan oleh ginjal, dapat membantu merangsang produksi sel
darah merah dan mengurangi kelelahan.
e.
Aplastic anemia. Pengobatan untuk anemia ini dapat
mencakup transfusi darah untuk meningkatkan kadar sel darah merah. Anda mungkin
memerlukan transplantasi sumsum tulang jika sumsum tulang Anda berpenyakit dan
tidak dapat membuat sel-sel darah sehat. Anda mungkin perlu obat penekan
kekebalan tubuh untuk mengurangi sistem kekebalan tubuh Anda dan memberikan
kesempatan sumsum tulang ditransplantasikan berespon untuk mulai berfungsi
lagi.
f.
Anemia terkait dengan penyakit sumsum tulang. Pengobatan
berbagai penyakit dapat berkisar dari obat yang sederhana hingga kemoterapi
untuk transplantasi sumsum tulang.
g.
Anemias hemolitik. Mengelola anemia hemolitik termasuk
menghindari obat-obatan tertentu, mengobati infeksi terkait dan menggunakan
obat-obatan yang menekan sistem kekebalan Anda, yang dapat menyerang sel-sel
darah merah. Pengobatan singkat dengan steroid, obat penekan kekebalan atau
gamma globulin dapat membantu menekan sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel
darah merah.
h.
Sickle cell anemia. Pengobatan untuk anemia ini dapat
mencakup pemberian oksigen, obat menghilangkan rasa sakit, baik oral dan cairan
infus untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah komplikasi. Dokter juga biasanya
menggunakan transfusi darah, suplemen asam folat dan antibiotik. Sebuah obat
kanker yang disebut hidroksiurea (Droxia, Hydrea) juga digunakan untuk
mengobati anemia sel sabit pada orang dewasa.
KONSEP
KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Aktivitas / istirahat
Gejala
: keletihan, kelemahan, malaise umum. Kehilangan
produktivitas; penurunan semangat untuk bekerja. Toleransi terhadap
latihan rendah. Kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak.
Tanda : takikardia/ takipnae ; dispnea pada waktu
bekerja atau istirahat. Letargi, menarik diri, apatis, lesu, dan kurang
tertarik pada sekitarnya. Kelemahan otot, dan penurunan kekuatan. Tubuh tidak
tegak. Bahu menurun, postur lunglai, berjalan lambat, dan tanda-tanda lain yang
menunujukkan keletihan.
2. Sirkulasi
Tanda : TD : peningkatan sistolik
dengan diastolik stabil dan tekanan nadi melebar, hipotensi postural. Disritmia
: abnormalitas EKG, depresi segmen ST dan pendataran atau depresi gelombang T;
takikardia. Bunyi jantung : murmur sistolik (DB). Ekstremitas (warna) : pucat
pada kulit dan membrane mukosa (konjuntiva, mulut, faring, bibir) dan dasar
kuku. (catatan: pada pasien kulit hitam, pucat dapat tampak sebagai
keabu-abuan). Kulit seperti berlilin, pucat (aplastik, AP) atau kuning lemon
terang (AP). Sklera : biru atau putih seperti mutiara (DB). Pengisian kapiler
melambat (penurunan aliran darah ke kapiler dan vasokontriksi kompensasi) kuku
: mudah patah, berbentuk seperti sendok (koilonikia) (DB). Rambut : kering,
mudah putus, menipis, tumbuh uban secara premature (AP).
3.
Integritas ego
Gejala : Keyakinanan agama/budaya
mempengaruhi pilihan pengobatan, misalnya penolakan transfusi darah.
Tanda : Depresi.
4.
Eleminasi
Gejala : Riwayat pielonefritis,
gagal ginjal. Flatulen, sindrom malabsorpsi (DB). Hematemesis, feses dengan
darah segar, melena. Diare atau konstipasi. Penurunan haluaran urine.
Tanda : distensi abdomen.
5. Makanan/cairan
Gejala : penurunan masukan diet,
masukan diet protein hewani rendah/masukan produk sereal tinggi (DB). Nyeri
mulut atau lidah, kesulitan menelan (ulkus pada faring). Mual/muntah,
dyspepsia, anoreksia. Adanya penurunan berat badan. Tidak pernah puas mengunyah
atau peka terhadap es, kotoran, tepung jagung, cat, tanah liat, dan sebagainya
(DB).
Tanda : lidah tampak merah
daging/halus (AP; defisiensi asam folat dan vitamin B12). Membrane mukosa
kering, pucat. Turgor kulit : buruk, kering, tampak kisut/hilang elastisitas
(DB). Stomatitis dan glositis (status defisiensi). Bibir : selitis, misalnya
inflamasi bibir dengan sudut mulut pecah. (DB).
6.
Neurosensori
Gejala : Sakit kepala, berdenyut,
pusing, vertigo, tinnitus, ketidak mampuan berkonsentrasi. Insomnia, penurunan
penglihatan, dan bayangan pada mata. Kelemahan, keseimbangan buruk, kaki goyah
; parestesia tangan/kaki (AP) ; klaudikasi. Sensasi manjadi dingin.
Tanda : Peka rangsang,
gelisah, depresi cenderung tidur, apatis. Mental : tak mampu berespons, lambat
dan dangkal. Oftalmik : hemoragis retina (aplastik, AP). Epitaksis : perdarahan
dari lubang-lubang (aplastik). Gangguan koordinasi, ataksia, penurunan rasa getar,
dan posisi, tanda Romberg positif, paralysis (AP).
7. Nyeri/kenyamanan
Gejala : nyeri abdomen samara :
sakit kepala (DB)
8. Pernapasan
Gejala : riwayat TB, abses paru.
Napas pendek pada istirahat dan aktivitas.
Tanda : takipnea, ortopnea, dan
dispnea.
9.
Keamanan
Gejala : riwayat pekerjaan terpajan
terhadap bahan kimia,. Riwayat terpajan pada radiasi; baik terhadap pengobatan
atau kecelekaan. Riwayat kanker, terapi kanker. Tidak toleran terhadap dingin
dan panas. Transfusi darah sebelumnya. Gangguan penglihatan, penyembuhan luka
buruk, sering infeksi.
Tanda : demam rendah, menggigil,
berkeringat malam, limfadenopati umum. Ptekie dan ekimosis (aplastik)
B.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
C. INTERVENSI
Perencanaan
dilakukan sesuai dengan diagnosa yang telah ditentukan, adapun perencanaan
menurut Doengoes 1999 adalah sebagai berikut :
1. Perubahan perfusi jaringan
berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman
oksigen/nutrient ke sel.
Tujuan
: peningkatan perfusi jaringan
Kriteria
hasil : menunjukkan perfusi adekuat, misalnya tanda vital stabil.
Intervensi
:
a. Awasi tanda vital kaji pengisian
kapiler, warna kulit/membrane mukosa, dasar kuku.
Rasional
: memberikan informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menetukan kebutuhan
intervensi.
b. Tinggikan kepala tempat tidur sesuai
toleransi.
Rasional
: meningkatkan ekspansi paru dan
memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan seluler. Catatan : kontraindikasi bila
ada hipotensi.
c. Awasi upaya pernapasan ; auskultasi
bunyi napas perhatikan bunyi adventisius.
Rasional
: dispnea, gemericik menununjukkan gangguan jantung karena regangan jantung lama/peningkatan kompensasi curah
jantung.
d. Selidiki keluhan nyeri
dada/palpitasi.
Rasional : iskemia seluler mempengaruhi
jaringan miokardial/ potensial risiko infark.
e. Hindari penggunaan botol penghangat
atau botol air panas. Ukur suhu air mandi dengan thermometer.
f. Rasional : termoreseptor jaringan
dermal dangkal karena gangguan oksigen.
g. Kolaborasi pengawasan hasil
pemeriksaan laboraturium. Berikan sel darah merah lengkap/packed produk darah
sesuai indikasi.
Rasional : mengidentifikasi defisiensi dan
kebutuhan pengobatan /respons terhadap terapi.
h. Berikan oksigen tambahan sesuai
indikasi.
Rasional
: memaksimalkan transport oksigen ke jaringan.
2. Intoleransi aktivitas berhubungan
dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan.
Tujuan
: dapat mempertahankan/meningkatkan ambulasi/aktivitas.
Kriteria
hasil : melaporkan peningkatan toleransi
aktivitas (termasuk aktivitas sehari-hari) - menunjukkan penurunan tanda
intolerasi fisiologis, misalnya nadi, pernapasan, dan tekanan darah masih dalam
rentang normal.
Intervensi
:
a. Kaji kemampuan ADL pasien.
Rasional
: mempengaruhi pilihan intervensi/bantuan.
b. Kaji kehilangan atau gangguan
keseimbangan, gaya jalan dan kelemahan otot.
Rasional
: menunjukkan perubahan neurology karena defisiensi vitamin B12 mempengaruhi
keamanan pasien/risiko cedera.
c. Observasi tanda-tanda vital sebelum
dan sesudah aktivitas.
Rasional
: manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah
oksigen adekuat ke jaringan.
d. Berikan lingkungan tenang, batasi
pengunjung, dan kurangi suara bising,pertahankan
tirah baring bila di indikasikan.
Rasional : meningkatkan istirahat untuk
menurunkan kebutuhan oksigen tubuh dan menurunkan regangan jantung dan paru
e. Gunakan teknik menghemat energi,
anjurkan pasien istirahat bila terjadi kelelaha
dan kelemahan, anjurkan pasien melakukan aktivitas semampunya (tanpa memaksakan diri).
Rasional
: meningkatkan aktivitas secara bertahap sampai normal dan memperbaiki tonus
otot/stamina tanpa kelemahan. Meingkatkan harga diri dan rasa terkontrol.
3. Perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidak
mampuan mencerna makanan /absorpsi nutrient yang diperlukan untuk pembentukan
sel darah merah.
Tujuan
: kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria
hasil : menunujukkan peningkatan/mempertahankan berat badan dengan nilai
laboratorium normal. - tidak mengalami tanda mal nutrisi. - Menununjukkan
perilaku, perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan atau mempertahankan berat
badan yang sesuai.
Intervensi:
a. Kaji riwayat nutrisi, termasuk makan
yang disukai.
Rasional
: mengidentifikasi defisiensi, memudahkan intervensi.
b. Observasi dan catat masukkan makanan
pasien.
Rasional
: mengawasi masukkan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi makanan.
c. Timbang berat badan setiap hari.
Rasional : mengawasi penurunan berat badan
atau efektivitas intervensi nutrisi.
d. Berikan makan sedikit dengan frekuensi sering
dan atau makan diantara waktu makan.
Rasional : menurunkan kelemahan, meningkatkan
pemasukkan dan mencegah distensi gaster.
e. Observasi dan catat kejadian mual/muntah,
flatus dan dan gejala lain yang berhubungan.
Rasional : gejala GI dapat menunjukkan efek
anemia (hipoksia) pada organ.
f. Berikan dan Bantu hygiene mulut yang baik ;
sebelum dan sesudah makan, gunakan
sikat gigi halus untuk penyikatan yang lembut. Berikan pencuci mulut yang di
encerkan bila mukosa oral luka.
Rasional : meningkatkan nafsu makan dan
pemasukkan oral. Menurunkan pertumbuhan bakteri, meminimalkan kemungkinan
infeksi. Teknik perawatan mulut khusus mungkin diperlukan bila jaringan
rapuh/luka/perdarahan dan nyeri berat.
g. Kolaborasi pada ahli gizi untuk
rencana diet.
Rasional : membantu dalam rencana diet untuk memenuhi kebutuhan individual.
h. Kolaborasi ; pantau hasil pemeriksaan
laboraturium.
Rasional
: meningkatakan efektivitas program pengobatan, termasuk
sumber diet nutrisi yang dibutuhkan.
i.
Kolaborasi ; berikan obat sesuai indikasi.
Rasional : kebutuhan penggantian tergantung pada
tipe anemia dan atau adanyan masukkan
oral yang buruk dan defisiensi yang diidentifikasi.
4. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas
kulit berhubungan dengan perubahan sirkulasi dan neurologist.
Tujuan
: dapat mempertahankan integritas kulit.
Kriteria
hasil : mengidentifikasi factor risiko/perilaku individu untuk mencegah cedera
dermal.
Intervensi:
a. Kaji integritas kulit, catat
perubahan pada turgor, gangguan warna, hangat local, eritema, ekskoriasi.
Rasional : kondisi kulit dipengaruhi oleh
sirkulasi, nutrisi dan imobilisasi.
b. Jaringan dapat menjadi rapuh dan
cenderung untuk infeksi dan rusak.
Reposisi secara periodic dan pijat permukaan tulang apabila
pasien tidak bergerak atau ditempat
tidur.
Rasional : meningkatkan sirkulasi kesemua
kulit, membatasi iskemia jaringan/mempengaruhi hipoksia seluler.
c. Anjurkan pemukaan kulit kering dan
bersih. Batasi penggunaan sabun. Rasional :area lembab, terkontaminasi,
memberikan media yang sangat baik untuk
pertumbuhan organisme patogenik. Sabun dapat mengeringkan kulit secara
berlebihan.
d. Bantu untuk latihan rentang gerak.
Rasional
: meningkatkan sirkulasi jaringan, mencegah stasis.
e. Gunakan alat pelindung, misalnya
kulit domba, keranjang, kasur tekanan udara/air.
Pelindung tumit/siku dan bantal sesuai indikasi. (kolaborasi) Rasional : menghindari kerusakan kulit dengan
mencegah /menurunkan tekanan terhadap permukaan kulit
5. Konstipasi atau Diare
berhubungan dengan penurunan masukan diet; perubahan
proses pencernaan; efek samping terapi obat.
Tujuan : membuat/kembali pola normal dari
fungsi usus.
Kriteria hasil : menunjukkan perubahan
perilaku/pola hidup, yang diperlukan sebagai penyebab, factor pemberat.
Intervensi :
a. Observasi warna feses, konsistensi,
frekuensi dan jumlah.
Rasional
: membantu mengidentifikasi penyebab /factor pemberat danintervensi yang tepat.
b. Auskultasi bunyi usus
Rasional : bunyi
usus secara umum meningkat pada diare dan
menurun pada konstipasi.
c. Awasi intake dan output (makanan dan
cairan).
Rasional : dapat mengidentifikasi dehidrasi, kehilangan
berlebihan atau alat dalam pengidentifikasi defisiensi diet.
d. Dorong masukkan cairan 2500-3000
ml/hari dalam toleransi jantung
Rasional : membantu dalam memperbaiki
konsistensi feses bila konstipasi. Akan membantu memperthankan status hidrasi
pada diare.
e. Hindari makanan yang membentuk gas.
Rasional
: menurunkan distress gastric dan distensi abdomen Kaji kondisi kulit
perianal dengan sering, catat perubahan kondisi kulit atau mulai kerusakan.
f. Lakukan perawatan perianal setiap
defekasi bila terjadi diare.
Rasional
: mencegah ekskoriasi kulit dan kerusakan.
g. Kolaborasi ahli gizi untuk diet
siembang dengan tinggi serat dan bulk. Rasional : serat menahan enzim pencernaan dan mengabsorpsi air dalam
alirannya sepanjang traktus intestinal dan dengan demikian menghasilkan bulk,
yang bekerja sebagai perangsang untuk defekasi.
h. Berikan pelembek feses, stimulant
ringan, laksatif pembentuk bulk atau enema sesuai indikasi. Pantau keefektifan.
(kolaborasi)
Rasional : mempermudah defekasi bila
konstipasi terjadi.
i.
Berikan obat antidiare, misalnya Defenoxilat Hidroklorida
dengan atropine (Lomotil) dan obat mengabsorpsi air, misalnya Metamucil.
(kolaborasi). Rasional : menurunkan motilitas usus bila diare terjadi. .
6. Risiko tinggi terhadap infeksi
berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan sekunder (penurunan hemoglobin
leucopenia, atau penurunan granulosit (respons inflamasi tertekan).
Tujuan
: Infeksi tidak terjadi.
Kriteria
hasil : mengidentifikasi perilaku
untuk mencegah/menurunkan risiko infeksi. meningkatkan penyembuhan luka, bebas
drainase purulen atau eritema, dan demam.
Intervensi:
a. Tingkatkan cuci tangan yang baik ;
oleh pemberi perawatan dan pasien. Rasional
: mencegah kontaminasi silang/kolonisasi bacterial. Catatan : pasien dengan
anemia berat/aplastik dapat berisiko akibat flora normal kulit.
b. Pertahankan teknik aseptic ketat
pada prosedur/perawatan luka.
Rasional : menurunkan risiko kolonisasi/infeksi
bakteri.
c. Berikan perawatan kulit, perianal dan oral
dengan cermat.
Rasional
: menurunkan risiko kerusakan kulit/jaringan dan infeksi.
d. Motivasi perubahan posisi/ambulasi
yang sering, latihan batuk dan napas
dalam.
Rasional : meningkatkan ventilasi semua segmen
paru dan membantu memobilisasi sekresi untuk mencegah pneumonia
e. Tingkatkan masukkan cairan adekuat.
Rasional : membantu dalam pengenceran secret
pernapasan untuk mempermudah pengeluaran dan mencegah stasis cairan tubuh
misalnya pernapasan dan ginjal.
f. Pantau/batasi pengunjung. Berikan
isolasi bila memungkinkan.
Rasional : membatasi pemajanan pada
bakteri/infeksi. Perlindungan isolasi dibutuhkan pada anemia aplastik, bila
respons imun sangat terganggu.
g. Pantau suhu tubuh. Catat adanya menggigil dan
takikardia dengan atau tanpa demam.
Rasional
: adanya proses inflamasi/infeksi membutuhkan evaluasi/pengobatan.
h. Amati eritema/cairan luka.
Rasional
: indikator infeksi lokal. Catatan : pembentukan pus mungkin tidak ada bila
granulosit tertekan.
i.
Ambil specimen untuk kultur/sensitivitas sesuai indikasi
(kolaborasi) Rasional : membedakan adanya infeksi, mengidentifikasi pathogen
khusus dan mempengaruhi pilihan pengobatan.
j.
Berikan antiseptic
topical ; antibiotic sistemik (kolaborasi).
Rasional : mungkin digunakan secara
propilaktik untuk menurunkan kolonisasi atau untuk pengobatan proses infeksi
local.
7. Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurang
terpajan/mengingat ; salah interpretasiinformasi
; tidak mengenal sumber informasi.
Tujuan
: pasien mengerti dan memahami tentang penyakit, prosedur diagnostic dan
rencana pengobatan.
Kriteria
hasil : pasien menyatakan pemahamannya proses penyakit dan penatalaksanaan
penyakit. Mengidentifikasi factor penyebab. Melakukan tiindakan yang
perlu/perubahan pola hidup.
Intervensi
:
a. Berikan informasi tentang anemia
spesifik. Diskusikan kenyataan bahwa terapi tergantung pada tipe dan beratnya
anemia.
Rasional : memberikan dasar pengetahuan
sehingga pasien dapat membuat pilihan yang tepat. Menurunkan ansietas dan dapat
meningkatkan kerjasama dalam program terapi.
b. Tinjau tujuan dan persiapan untuk
pemeriksaan diagnostic.
Rasional
: ansietas/ketakutan tentang ketidaktahuan meningkatkan stress, selanjutnya
meningkatkan beban jantung. Pengetahuan menurunkan ansietas.
c.
Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang
penyakitnya.
Rasional : megetahui seberapa jauh
pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga
tentang penyakitnya.
d. Berikan penjelasan pada klien
tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang. Rasional : dengan mengetahui
penyakit dan kondisinya sekarang, klien dan keluarganya akan merasa tenang dan
mengurangi rasa cemas.
e. Anjurkan klien dan keluarga untuk
memperhatikan diet makanan nya. Rasional : diet dan pola makan yang tepat
membantu proses penyembuhan.
f. Minta klien dan keluarga mengulangi
kembali tentang materi yang telah diberikan.
Rasional : mengetahui
seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai keberhasilan dari
tindakan yang dilakukan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar